Wisuda Sarjana Pendidikan Keagamaan Katolik Sekolah Tinggi Pastoral (STIPAS) St. Sirilus Ruteng Angkatan XIV dan XV Tahun 2022

Wisuda Sarjana Pendidikan keagamaan Katolik STIPAS St. Sirilus Ruteng pada Jumat 02 Desember 2022 berlangsung di Aula STIPAS St. Sirilus Ruteng. Wisudawan-wisudawati yang telah menempuh masa pendidikan selama 4 tahun akademik, telah bersiap-siap sejak pukul 07.00 wita di halaman STIPAS. Suasana haru penuh sukacita mewarrnai wajah mereka. Didampningi kedua orang tua mereka berjejer menyambut kedatangan Vikjen Keuskupan Ruteng, kepala kementerian Agama kabupaten  Manggarai, Manggarai Barat dan Manggarai Timur beserta jajarannya, Para tamu undangan, diarak dengan tarian Ronda menuju Aula STIPAS St. Sirilus tempat Acara Wisuda berlangsung. Para wisudawan-Wisudawati bersama tamu undangan dan para dosen memasuki Aula STIPAS St. Sirilus ruteng pada pukul 09. 00 Wita diiringi dengan Lagu GAUDAEMUS IGITUR oleh paduan suara STIPAS.

Rapat senat terbuka Luar biasa dalam rangka wisuda Sarjana Pendidikan keagamaan Katolik dibuka secara resmi oleh Ketua STIPAS St. Sirilus Ruteng Dr. Rikardus Moses Jehaut, S.Fil, M.Th dengan tiga ketukan Bapa, Putra dan Roh Kudus. Sesudah itu, dilanjutkan dengan orasi Ilmiah yang dibawakan oleh Dr. Hironimus Bandur, S.Fil, M.Th dengan judul Literasi Keagamaan Menuju Paradigma Moderasi Beragama (Perspektif Filsafat Pragmatiems Pierce) yang berlangsung 30 menit. Dalam Orasi ini, beliau menyampaikan alasan mendalam dibalik tema ini diangkat dan diulas untuk kesekian kalinya baik di dunia akademik maupun dalam masyarakat umum pada kesempatan seminar-seminar yang dibawahkan di Labuan Bajo dan di Ruteng. Ada empat keresahan sosial sebagai kegelisahan akademik dalam dunia dewasa ini yang merujuk pada fenomena sosial yang berdampak pada keberagaman masyarakat.   Pertama, fenomena etnolegiosentris yang belum selesai. Fenomena ini ditandai dengan pengklaiman suku atau daerah tertentu dengan agama tertentu. Setiap daerah diidentikan agama yang dianut. Contoh orang Flores identik dengan Katolik, orang Bima Identik dengan Muslim, Orang Bali identik dengan Hindu dsb. Akibatnya orang tidak saling menerima sebagai saudara sebangsa tetapi berusaha untuk saling memusnahkan satu sama lain. Kedua, Lunturnya mental Archipilago (mental kepulauan) pada masyarakat Indonesia. Indonesia adalah sebuah negara kepulauan akan tetapi, mental kepulauan terpasung oleh ego kepulauan. Mental kepulauan yang belum sembuh nampak dari klaim bahwa suatu pulau merupakan milik agama tertentu dan tidak boleh hadir agama lain dalam pulau itu. Akibatnya nampak bahwa Indonesia belum menyambung menjadi satu bangsa tetapi tersekat oleh mental kepulauan. Tentang hal ini beliau meminjam kata-kata cendekiawan Magnis Suseno yang mengatakan, “aksi sabotase terhadap eksistensi Indonesia sebagai satu bangsa”. Ketiga, konsep keagamaan yang miopik terhadap kemanusiaan. Beliau menganalogikan istilah dunia kedokteran ini untuk menjelaskan fenomena kehidupan beragama di Indonesia saat ini.  Dalam dunia kedokteran istilah miopik digunakan orang yang rabun jauh dan hipermetropi untuk orang yang rabun dekat. Cara beragama yang miopik merujuk pada cara beragama yang rabun terhadap fakta-fakta kebenaran yang berdiri jauh dari teks keagamaan. Pada posisi tertentu orang tidak mampu melihat kebenaran dalam ajaran agamanya namun ia mulai mampu melihat dan mengkritisi kebenaran agama lain yang diistilahkan dengan hipermetropi. Keempat, Kegelisahan di bidang pendidikan. Dikatakan bahwa, negara melalui BNPT pernah merilis sejumlah lembaga pendidikan tinggi yang terkapar paham radikalisme dan intoleransi. Melalui Riset PPIM UIN Jakarta pada 2017 seperti dikutip Abdallah (2016:6) menunjukan mengejutkan public tentang radikalisme.  terdapat 58% memiliki opini radikal, 51,1 % opini intoleran internal Islam dan 34,4 % opini intoleran Kalangan nonMuslim.  Beliau juga menegaskan bahwa yang paling terkapar adalah mahasiswa dan siswa yang memiliki akses internet. Hal ini disebabkan karena generasi milenial mengandalkan internet untuk belajar tentang agama. Dalam situasi ini, respon agama-agama besar di dunia yakni Kristen dan Islam sejak abad ke VII sudah diupayakan dialog dan perjumpaan. Dalam ruang dialog dari pihak katolik, ada tiga tokoh agama yang paling popular yaitu Paus Yohanes  XXIII, Paus Yohanes Paulus  II dan Paus Fransiskus yang saat ini dipandang sebagai ikon belas kasih sekaligus etalase dialog antar agama terutama Muslim-Katolik. Dikatakan, moderasi beragama dalam perspektif Pragmatisme Pierce adalah “beragama harus melibatkan tiga perangkat ini yakni belief (keyakinan), Investigation (Investigasi) dan meaning (makna). Bagi Pierce, setiap ide dan keyakinan diperiksa dengan akal sehat, namun kebenaran sebuah konsep yang logis diukur dalam konsekuensi-konsekuensinya dalam realitas sosial”.

Maka, implikasi nyata bagi para pendidik keagamaan adalah “keterlibatan diri pada kehidupan privat dan publik dengan tiga kualifikasi penting yaitu keyakinan, rasionalitas dan makna atau manfaat”. Akhirnya beliau meneguhkan orasinya dengan kata-kata Tuhan Yesus sendiri “kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu, dengan segenap akal budimu, dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu. Jadilah guru keagamaan katolik yang selalu memperhitungkan keseimbangan antara keyakinan, rasionalitas dan faedahnya bagi pribadi dan orang lain demi pembangunan bangsa”.

Sesudah orasi ilmiah diselingi dengan lagu mars STIPAS St. Sirilus oleh panduan Suara STIPAS, lalu pembacaan surat keputusan Ketua STIPAS St. Sirilus Ruteng tentang kelulusan oleh Ketua Prodi, Emanuel Haru, S.Fil, M.Si

Masuk pada acara inti yaitu pelantikan wisudawan-wisudawati, oleh Ketua STIPAS St. Sirilus Ruteng Dr. Rikardus Moses Jehaut, S.Fil, M.Th didampingi Wakil Ketua I Drs. Yoseph Masan Toron,M.Th yang ditandai dengan pemindahan tali pada topi toga dan penyerahan ijasah kepada wisudawan-wisudawati yang maju satu persatu.  

Dilanjutkan dengan pembacaan ikrar janji wisudawan-wisudawati. Melalui ikrar janji ini, wisudawan-wisudawati berjanji untuk membaktikan ilmu pengetahuan yang telah diperoleh untuk kemajuan bangas Indonesia berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Dalam semangat St. Sirilus, akan mengabdikan diri demi nilai-nilai kerajaan Allah dan setia kepada ajaran dan prinsip moral Gereja katolik, serta menjaga nama baik lembaga di mana pun mereka berada.

 Sesudah janji ikrar, Lagu selingan dari paduan suara Stipas St Sirilus Ruteng. Sesudah acara inti selesai, masuk pada sambutan-sambutan.

Pertama, dari yang mewakili para wisudawan-wisudawati, Agustinus Hariyanto, S.Pd, lulusan terbaik dengan predikat cum laude. Dalam sambutannya ia mengungkapkan rasa syukur dan bangga atas prestasi yang telah mereka peroleh.  Sekaligus mengajak teman-temannya untuk tidak berbangga diri sebatas peristiwa hari ini. Kebanggaan orang tua akan lebih bermakna ketika ilmu itu bisa diaplikasikan di dunia kerja. Dalam nada haru ia berkata, “lembaga ini adalah ibu kami yang telah membina, mendidik dan membimbing kami sampai kami bisa mencapai titik ini. Segala proses dengan dinamikanya telah kami lalui, dan dalam proses itu, kami tidak berjalan sendirian, ada banyak hati dan tangan yang menopang, mendukung, mendidik dan membimbing kami”. Kepada yayasan Sukma, tempat lembaga ini bernaung, kepada lembaga STIPAS, para dosen, tenaga kependidikan dan tentunya orang tua yang telah menjadi tulang punggung dalam menyelesaikan studi ini,atas nama teman-teman ia  menyampaikan syukur dan terimakasih. Sebagai sarjana keagamaan katolik, ia berjanji akan menjadi garda terdepan dalam membumikan nilai-nilai moderasi beragama lewat literasi keagamaan yang menjadi tema umum wisuda tahun ini.

Kedua, dari ketua STIPAS St. Sirilus Ruteng, Dr. Rikardus Moses Jehaut, S.Fil, M.Th  Diawal sambutannya, beliau mengajak seluruh hadirin untuk bersyukur kepada Tuhan, karena peristiwa besar yang terjadi hari ini adalah semata-mata karena campur tangan Tuhan. Selaku Pimpinan Sekolah Tinggi ini, beliau, mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah terlibat dalam menyukseskan kegiatan ini, juga kepada semua yang telah mendukung lembaga ini, baik itu dari pihak pemerintah maupun Gereja. Kepada para wisudawan-wisudawati, ia mengucapkan terimakasih dan profisiat atas semua prestasi yang telah mereka raih selama berada di lembaga pendidikan ini. “Ini bukanlah akhir dari perjuangan Anda, tetapi awal dari pengabdianmu yang baru.  Anda sekalian telah dibekali dengan ilmu pengetahuan dan ketrampilan untuk tugas dan pelayanan yang sedang menanti di tempat tugas”. Sebagai Ketua Sekolah Tinggi Pastoral (STIPAS) St. Sirilus Ruteng, sekaligus orang tua bagi semua civitas akademika, kepada wisudawan-wisudawati, sekali lagi beliau mengingatkan kembali pesan yang telah dan senantiasa digaungkan disetiap kesempatan, “Jadilah guru dan katekis  yang rajin berdoa;  jadilah guru katekis yang rajin membaca Kitab Suci; jadilah katekis yang rajin membaca buku yang baik. Jangan berhenti membaca dan menulis karena dengan nalar yang kritis, Anda akan mampu membaca tanda-tanda zaman, dan jadilah guru yang membawa damai dan kerukunan,  Jangan jadi penakut dan pengecut, jika ya katakan ya dan jika tidak katakan tidak.  Jadilah guru  dan katekis yang taat kepada  otiritas gereja”. Akhirnya untuk yang telah berkeluarga dan akan berkeluarga ia juga berpesan “Bangunlah keluargamu sebagai Eklesia Domestica (Gereja rumah Tangga), Didiklah anak-anakmu dalam iman katolik, saling mendoakan antara suami-istri bukan untuk cepat mati tetapi agar saling setia sampai mati”.

Ketiga, dari Vikjen Keuskupan Ruteng, Rm. Drs.  Alfons Segar, MS.PS. Dalam sambutannya beliau berpesan kepada para wisudawan-wisudawati untuk menjadikan tiga moment penting yang telah dilakukan lembaga ini menjelang wisuda tahun ini mulai dari Seminar, Missio Canonica dan Wisuda pada hari ini sebagai pegangan dan kekuatan bagi perjalanan selanjutnya di medan karya. Selaku perwakilan dari pimpinan Gereja lokal keuskupan ruteng beliau mengatakan “Keuskupan sungguh berbahagia dengan peristiwa ini karena telah menambah barisan tenaga pastoral keuskupan ini. Anda telah dipercaya Gereja lokal dan diutus untuk meneguhkan iman umat di tengah tantangan zaman ini, maka mulailah dari diri Anda,  melalui kata dan perbuatan jadilah contoh dan teladan untuk umat Allah dimana saja Anda berada. Bekerja samalah dengan pastor paroki, para katekis senior dan Guru Agama. Karena hanya dengan memperkuat barisan para pelayan pastoral, kita akan berhasil”. Beliau mengakhiri sambutannya dengan ucapan terima kasih kepada pemerintah yang diwakili oleh kehadiran tiga kepala kantor keagamaan di tiga kabupaten yakni kabupaten Manggarai, Mangarai Barat dan Manggarai Timur yang hadir dalam acara wisuda ini. Beliau berkata “ini adalah bentuk dukungan dan perhatian pemerintah untuk lembaga ini yang secara khusus mempersiapkan tenaga-tenaga pastoral bagi Gereja lokal Keuskupan Ruteng.

Akhirnya tepat Pukul 11.00 Wita, Rapat Senat Terbuka Luar Biasa Dalam Rangka Wisuda Sarjana STIPAS St. Sirilus Ruteng Angkatan XIV dan XV Tahun 2022 ditutup dengan resmi oleh ketua STIPAS St. Sirilus Ruteng. Proficiat and Happy Graduation Untuk Para Wisudawan – Wisudawati STIPAS St. Sirilus Ruteng Angkatan XIV dan XV Tahun 2022, Selamat Berjuang ditempat Anda berkarya.** Sr. Imel Seran dan Jey Lejo, S.I.Kom (Seksi Publikasi Wisuda)

Foto Kegiatan Wisuda ** Valens dan Fandi (Seksi Dokumentasi Wisuda)

   

   

Leave a Comment