Pada hari selasa, 29 November 2022, Pkl 09.00-12.00 telah diadakan seminar tentang Literasi Keagamaan Para Pendidik Menuju Moderasi Beragama, di Aula Stipas St. Sirilus Ruteng, dalam rangka menyongsong hari Wisuda Sarjana Pendidikan Keagamaan Katolik Angkatan XIV dan XV Lulusan STIPAS St. Sirilus Ruteng Tahun 2022.

Seminar ini, menghadirkan dua narasumber utama yakni Dr. Hironimus Bandur, S. Fil, M.Th, sebagai dosen dan peneliti STIPAS St. Sirilus Ruteng dan Dr. Frans Sawan, S.S, M.Pd,  selaku dosen dan peneliti UNIKA St. Paulus Ruteng, dengan Moderator Drs. Yosef Masan Toron, M.Th sebagai dosen dan peneliti STIPAS St. Sirilus Ruteng.

Adapun anggota seminar adalah para dosen dan civitas akademika STIPAS St. Sirilus Ruteng, perutusan dari SMA/SMK se kota Ruteng yakni dua siswa dan kepala sekolah, serta para tamu undangan lainnya.

Kegiatan seminar diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan doa pembuka. Kepala Kantor kementerian Agama kabupaten Manggarai Bapak Nikolaus Nama Payon, S.Ag yang hadir pada kesempatan ini, dalam sambutannya beliau dengan semangat mengungkapkan kebahagiaan dan memberikan apresiasi yang tinggi kepada lembaga STIPAS St. Sirilus Ruteng yang telah menyelenggarakan kegiatan ini yang merupakan implementasi nyata dari program pemerintah yakni gerakan moderasi beragama di dunia pendidikan. Diakhir kata beliau berpesan agar kegiatan ini membawa perubahan bagi cara pandang dan cara bertindak kita di tengah masyarakat Indonesia yang plural dan majemuk.

Dr. Hironimus Bandur, S.Fil, M.Th, sebagai dosen sekaligus peneliti dari STIPAS St. Sirilus Ruteng dalam pemaparan materinya menekan tentang nilai-nilai toleransi yang harus diimplementasikan dalam kehidupan bersama. Sejak tahun 2019, dalam pemerintahan Jokowi, moderasi beragama mulai menjadi sebuah gerakan bersama. Beliau menggarisbawahi bahwa, “Agama dan ajarannya pada dasarnya adalah baik, yang menjadi persoalan adalah bagaimana cara menginterpretasikan nilai-nilai dan ajaran agama itu dalam ruang publik”.

Sesuai dengan tujuan seminar ini, yakni menghantar para wisudawan-wisudawati yang telah menyelesaikan Studinya di Lembaga ini, beliau memberikan pesan kepada para calon sarjana muda sekaligus calon Pendidik Pendidikan Keagamaan Katolik, dengan  menggunakan teori Filsuf dan sosiolog Amerika Serikat, Charles Sanders Pierce  untuk membaca keberagaman di Indonesia, dengan berpesan: “Jadilah pendidik agama dan keagamaan yang dapat memadukan aspek keyakinan, ratio dan maknanya bagi banyak orang, Jadilah promotor literasi keagamaan yg benar  sekaligus guru bagi pengembangan wawasan moderasi beragama, Jadilah anak- anak ideologis Allah (anak-anak Allah) dan juga anak-anak Peirce dalam beragama yakni keberagamaan yang merupakan implementasi dari keyakinan logika dan makna sebab Mencintai Tuhan tidak hanya dengan segenap hati saja, tidak hanya dengan segenap akal budi, atau tidak hanya dengan segenap kekuatan dan segenap jiwa, tetapi mesti dengan segenap akal budimu, dan dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu dan dengan  segenap kekuatanmu (Mrk 12:30; Mat 22:37-38)

Pembicara kedua, Dr. Frans Sawan,S.S, M.Pd dosen dan peneliti UNIKA St. Paulus Ruteng, dengan mengambil sub tema “Penguatan Karakter Moderasi Beragama Melalui Gerakan Literasi Agama Katolik Dalam Pendidikan” lebih menekankan tentang penguatan literasi keagamaan katolik dalam dunia pendidikan katolik. Dengan mengutip Dokumen Gereja Katolik tentang kebebasan beragama bahwa semua orang berhak memeluk sebuah agama tanpa paksaan dari siapapun atau kelompok manapun. Ia menekankan, “ketidaktahuan adalah problem, karena membuat orang mudah marah dan mudah untuk balas dendam”. Maka solusinya untuk mengatasi ketidaktahuan ini adalah “menjadikan moderasi beragama sebagai sebuah gerakan”.

Akhirnya beliau menutup pemaparan materinya dengan mengutip kata-kata Lickona “Hati-hati dengan PIKIRAN Anda, karena pikiran Anda akan menjadi KATA- KATA Anda. Hati-hati dengan kata-kata Anda karena kata-kata Anda akan menjadi TINDAKAN Anda. Hati-hati dengan tindakan Anda, karena tindakan Anda akan menjadi KEBIASAAN Anda. Hati-hati dengan kebiasaan Anda karena kebiasaan Anda akan menjadi KARAKTER Anda. Hati-hati dengan karakter Anda karena karakter Anda akan menjadi TAKDIR Anda” (Lickona, 2012). 

Bagi para calon Guru pendidikan keagamaan katolik yang akan terjun dalam lapangan kerja ia menyimpulkan dan memberikan amanah ini: “Penguatan karakter moderasi beragama melalui literasi agama Katolik hanya akan efektif sejauh itu menjadi sebuah GERAKAN yang melibatkan semua  elemen sekolah dan pihak terkait”.

Sesudah kedua pemateri menyelesaikan pemaparannya, dilanjutkan dengan sesi tanya jawab dan diskusi yang dipandu langsung oleh Moderator. Diskusi berlangsung dalam suasana persaudaraan dan keakraban. Antara kedua narasumber dan peserta seminar saling berbagai pengalaman dan informasi seputar perkembangan gerakan moderasi beragama di Indonesia dan perkembangan paham-paham radikalisme yang sedang menyusup masuk dalam dunia pendidikan, serta berbagai gerakan intoleransi yang sedang terjadi juga di dunia pendidikan saat ini.

Kegiatan Seminar diakhiri pada pukul 12. 00 Wita, dengan penyerahan cenderamata dari lembaga Stipas kepada kedua narasumber, moderator serta bapak kepala Kantor kementerian agama kabupaten Manggarai. acara penutup ditandai dengan foto bersama para dosen, pemateri dan seluruh tamu undangan. Salam Literasi & salam Toleransi **STIPAS Ruteng, 29 November 2022. (Sr. Imel & Jey Lejo, S.I.Kom (Seksi Publikasi Wisuda)

Foto Kegiatan Seminar**Sdr. Alfandi Syukur (Seksi Dokumentasi Wisuda)

 

 

Leave a Comment